Logam tanah jarang sering disebut sebagai bahan kunci transisi energi bersih, karena dipakai pada magnet motor kendaraan listrik dan turbin angin. Namun proses memperolehnya sendiri tidak sepenuhnya bersih. Dari penambangan hingga pemisahan menjadi elemen individual, rantai pasok logam tanah jarang menyimpan tantangan lingkungan yang harus dipahami, terutama bagi negara yang sedang merencanakan hilirisasi seperti Indonesia.
Tahap Penambangan dan Pengolahan Awal
Perubahan bentang lahan dan volume batuan sisa. Kadar logam tanah jarang dalam bijih umumnya rendah, sehingga volume batuan yang harus digali dan diproses besar dibanding hasil akhirnya. Konsekuensinya adalah lahan terbuka yang luas dan timbunan batuan sisa.
Tailing. Setelah konsentrasi mineral (misalnya dengan flotasi), sisa material halus yang disebut tailing ditampung dalam kolam atau bendungan. Tailing perlu dikelola ketat agar tidak mencemari air tanah dan permukaan atau mengalami kegagalan struktur penampung.
Penambangan jenis tanah liat adsorpsi ion. Beberapa deposit, terutama yang kaya unsur tanah jarang berat, berupa tanah liat tempat ion logam menempel. Ekstraksinya memakai larutan kimia yang dialirkan melalui tanah. Bila tidak dikendalikan, metode ini berisiko mencemari tanah dan air tanah serta memicu longsor dan degradasi lahan.
Tahap Pemurnian dan Pemisahan
Sebagaimana dijelaskan dalam proses ekstraksi dan pemurnian, bijih dipecah dengan asam kuat atau basa pekat, lalu elemen dipisahkan lewat rangkaian solvent extraction. Dampak lingkungannya meliputi:
- Limbah asam dan basa dari tahap pemecahan bijih, yang harus dinetralkan sebelum dilepas atau disimpan
- Air limbah bermuatan garam dan senyawa nitrogen (misalnya amonium) dari proses pengendapan dan pemisahan
- Pelarut organik dalam volume besar pada proses pemisahan elemen, yang perlu sirkuit tertutup agar tidak bocor atau menguap
- Konsumsi energi dan air yang besar, karena banyaknya tahap pemisahan yang dibutuhkan
Radioaktivitas Alami: Isu yang Sering Disalahpahami
Banyak mineral pembawa tanah jarang, seperti monasit dan bastnäsit, secara alami mengandung unsur radioaktif, terutama torium dan uranium dalam jumlah kecil. Ini bukan hasil kontaminasi, melainkan bagian dari geokimia mineralnya.
Konsekuensinya: proses pengolahan dapat memusatkan unsur radioaktif tersebut ke dalam residu dan tailing, sehingga limbahnya tergolong material radioaktif alami (NORM) yang memerlukan penyimpanan, pemantauan, dan pelaporan sesuai regulasi. Bagi pekerja, paparan debu dan radon di area pengolahan juga perlu dikendalikan dengan ventilasi dan alat pelindung yang sesuai.
Hal ini relevan untuk Indonesia, karena potensi mineral ikutan tanah jarang dalam tailing tambang timah berkaitan dengan monasit, sehingga pengelolaan aspek radioaktivitas dan kepatuhan pada regulator ketenaganukliran menjadi bagian penting dalam perencanaan proyek.
Jejak Karbon dan Energi
Selain limbah, ada jejak karbon dari energi untuk penambangan, penghancuran, pemurnian kimia, dan pemisahan. Karena besarnya jumlah tahap, energi per kilogram produk murni bisa jauh lebih besar dibanding banyak logam industri lain. Sumber listrik yang dipakai fasilitas pemurnian sangat memengaruhi jejak karbon akhirnya.
Upaya Mitigasi yang Berkembang
Manajemen tailing yang lebih baik. Penampungan berlapis, pemantauan air tanah, rencana penutupan tambang, dan pengeringan tailing (dry stacking) mengurangi risiko pencemaran dan kegagalan bendungan.
Sirkuit tertutup dan daur ulang bahan kimia. Mengembalikan asam, basa, dan pelarut ke proses menekan volume limbah baru.
Teknologi pemisahan alternatif. Riset membran, pertukaran ion, dan biosorpsi mengarah pada proses yang mengurangi pemakaian pelarut organik dan bahan kimia pekat.
Daur ulang. Mengambil kembali elemen dari magnet dan elektronik bekas mengurangi kebutuhan penambangan baru, sebagaimana dibahas dalam artikel daur ulang logam tanah jarang.
Standar dan transparansi rantai pasok. Pembeli industri semakin menuntut jejak asal dan praktik lingkungan yang terverifikasi, sehingga standar pelaporan dan audit menjadi bagian dari daya saing proyek.
Menyeimbangkan Transisi Energi dan Beban Lingkungan
Ketergantungan pada logam tanah jarang untuk teknologi bersih tidak menghapus kebutuhan menekan dampak dari rantai pasoknya sendiri. Bagi pembuat kebijakan dan investor, biaya pengelolaan lingkungan yang memadai perlu dihitung sejak studi kelayakan, karena proyek yang mengabaikannya berisiko menghadapi penundaan, biaya perbaikan, dan penolakan sosial. Di sisi lain, memahami isu ini membantu pembaca menilai klaim “hijau” secara lebih kritis: teknologi bersih di pemakaian akhir tetap perlu dilihat bersama jejak lingkungan bahan bakunya.
Baca Juga
- Proses Ekstraksi dan Pemurnian Logam Tanah Jarang: Tahapan dan Tantangan Teknologinya
- Hilirisasi Logam Tanah Jarang di Indonesia: Potensi, Proyek, dan Tantangannya
- Daur Ulang Logam Tanah Jarang dari Elektronik Bekas: Solusi atau Sekadar Pelengkap?
- Teknologi Pemisahan Elemen Tanah Jarang: Solvent Extraction dan Tantangan Presisi Kimianya




