Harga nikel sepanjang 2026 bergerak di antara dua kekuatan yang berlawanan. Di satu sisi, Indonesia memangkas kuota produksi bijih untuk menahan kelebihan pasokan. Di sisi lain, stok nikel di gudang London Metal Exchange (LME) terus bertambah. Pada pertengahan September 2026, harga nikel LME berada di sekitar US$16.700 per ton, sementara stok gudang LME mencapai sekitar 274.000 ton.
Perjalanan Harga Nikel Sepanjang 2026
- Akhir 2025: harga berada di kisaran US$14.000–15.000 per ton, tertekan surplus yang berkepanjangan.
- Januari 2026: harga menembus US$17.000 per ton, tertinggi dalam 15 bulan, setelah naik hampir 20% dalam tiga minggu. Pada 19 Januari harga tercatat sekitar US$17.900.
- Semester pertama: Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat rata-rata bulanan yang bergejolak, sekitar US$17.100 pada Januari dan US$16.450 pada Februari.
- September 2026: harga bertahan di sekitar US$16.700 per ton.
Harga saat ini lebih tinggi daripada akhir 2025, tetapi belum mencerminkan kelangkaan fisik.
Faktor Pendorong: Pemangkasan RKAB
Pemicu utama kenaikan awal tahun adalah keputusan Kementerian ESDM menetapkan target produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 di kisaran 250–260 juta ton. Sebagian laporan menyebut 260–270 juta ton. Angka ini turun sekitar sepertiga dari RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton.
Tujuan pemerintah ada tiga: menopang harga, menjaga cadangan untuk jangka panjang, dan menertibkan perusahaan yang melanggar aturan lingkungan. Pemerintah juga mengubah masa berlaku RKAB dari tiga tahun menjadi tahunan, sehingga kuota bisa disesuaikan lebih cepat.
Indonesia menyumbang sekitar 60% produksi nikel dunia, jadi perubahan kuota langsung terasa di pasar global.
Faktor Penahan: Surplus dan Stok
Pemangkasan kuota belum menghapus kelebihan pasokan.
- Stok LME naik dari sekitar 255.000 ton pada akhir 2025 menjadi sekitar 274.000 ton pada pertengahan September 2026.
- Proyeksi surplus 2026 dari ING sekitar 261.000 ton, sedangkan Nornickel memperkirakan 275.000 ton.
- Permintaan baterai tumbuh lebih lambat dari perkiraan, karena baterai LFP yang tidak memakai nikel terus merebut pangsa.
- Baja tahan karat, pemakai nikel terbesar, baru pulih secara bertahap.
Ada pula masalah di dalam negeri. Pelaku industri pengolahan menilai kuota bijih tidak mencukupi kebutuhan smelter dan memperkirakan kekurangan hingga 100 juta ton, sehingga sebagian smelter mengimpor bijih dari Filipina. Latar belakang kapasitas smelter ada di artikel investasi smelter nikel dan hilirisasi mineral.
Proyeksi Harga
| Sumber | Pandangan |
|---|---|
| ING (akhir 2025) | Rata-rata 2026 sekitar US$15.250 per ton, pasar tetap surplus |
| APNI (Juli 2026) | US$17.000–20.000 per ton bila disiplin kuota konsisten |
| APNI (Juli 2026) | US$14.000–16.000 per ton bila revisi RKAB menambah kuota berlebihan |
Arah harga sampai akhir tahun bergantung pada dua hal yang perlu dipantau: seberapa besar tambahan kuota lewat revisi RKAB, dan apakah stok LME mulai turun.
Dampak bagi Industri di Indonesia
Penambang. Harga yang lebih tinggi membantu margin, tetapi volume penjualan dibatasi kuota.
Smelter. Bijih yang lebih ketat menaikkan biaya bahan baku. Smelter nickel pig iron (NPI) paling merasakan tekanan ini.
Pabrik baja tahan karat dan pengecoran. Nikel adalah unsur paduan utama pada stainless steel seri 300 dan pada sebagian besi cor serta baja cor paduan. Kenaikan harga nikel langsung menaikkan biaya material, sehingga pembeli coran stainless perlu memperhatikan klausul penyesuaian harga bahan baku dalam kontrak. Peran nikel dan molibdenum terhadap ketahanan karat dibahas di artikel korosi sumuran.
Rantai pasok baterai. Proyek HPAL yang menghasilkan bahan baku baterai tetap berjalan, tetapi keekonomiannya bergantung pada harga nikel dan biaya bahan penolong seperti sulfur.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa harga nikel saat ini? Pada pertengahan September 2026, harga nikel LME sekitar US$16.700 per ton. Harga berubah setiap hari, jadi periksa data LME untuk angka terbaru.
Mengapa harga nikel naik pada awal 2026? Karena Indonesia memangkas kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 sekitar sepertiga dari tahun sebelumnya, sehingga pasar memperkirakan pasokan lebih ketat.
Apakah harga nikel akan terus naik? Belum tentu. Stok yang tinggi dan surplus global menahan kenaikan. Proyeksi lembaga berkisar dari sekitar US$15.000 sampai US$20.000 per ton, bergantung pada konsistensi kebijakan kuota.
Kesimpulan
Tahun 2026 menandai perubahan peran Indonesia di pasar nikel, dari pendorong volume menjadi pengendali pasokan. Pemangkasan RKAB berhasil mengangkat harga dari titik terendahnya, tetapi stok dan surplus global masih membatasi kenaikan. Pelaku industri perlu memantau revisi kuota dan pergerakan stok LME, karena keduanya akan menentukan harga pada sisa tahun ini dan awal 2027.





